Selasa, 04 April 2017

Sistem Penginderaan Jauh


2.1              Penginderaan Jauh

Sutanto (2013) mengemukaan penginderaan jauh merupakan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni perolehan informasi objek di permukaan bumi melalui hasil rekamannya. Didalam penginderaan jauh melekat tiga hal yang esensial, yaitu (1) yang dikaji bukan obyek asli melainkan hasil rekamannya, (2) menggunakan sensor penginderaan jauh yang selanjutnya disebut sensor, dan (3) perekaman obyek dilakukan dengan suatu jarak (sensor tidak menempel pada obyek yang dikaji).

Penggunaan penginderaan jauh semakin meningkat. Sutanto (1986) mengemukaan peningkatan penggunaan penginderaan jauh dilandasi alasan, yaitu:

1)      Citra menggambarkan obyek, daerah, dan gejala di permukkaan bumi dengan: (a) ujud dan letak obyek yang mirip ujud dan letaknya di permukaan bumi, (b) relative lengkap, (c) meliput daerah luas, dan (d) permanen.

2)      Dari data citra tertentu dapat ditimbulkan gambaran tiga dimensional apabila pengamatannya dilakukan denganalat yang disebut stereoskop.

3)      Karakteristi obyek yang tidak tampak dapat diujudkan dalam bentuk citra sehingga dimungkinkan pengenalan obyeknya.

4)      Citra dapat dibuat secara cepat meskipun untuk daerah yang sulit dijelajahi secara terestris.

5)      Merupakan salah satu cara tercepat dalam memetakan daerah bencana.

6)      Citra sering dibuat dengan periode ulang yang pendek.

2.3.1    Sistem Penginderaan Jauh

Sistem Penginderaan jauh merupakan serangkaian komponen yang digunakan untuk penginderaan jauh. Rangkaian komponen itu berupa tenaga, atmosfer,obyek, sensor, data dan penggunaan data.

1)      Tenaga, dalam penginderaan jauh dikenal sumber tenaga alamiah dan sumber tenaga buatan. Tenaga ini mengenai obyek dipermukaan bumi yang kemudian dipantulkan ke sensor atau juga dapat tenaga dari obyek yang dipancarkan ke sensor.

2)      Atmosfer, membatasi bagian spectrum elektromagnetik yang dapat digunakandalam penginderaan jauh.Pengaruh atmosfer merupakan fungsi panjang gelombang.

3)      Interaksi antara tenaga dan obyek, tiap obyek memiliki karakteristik tertentu dalam memantulkan atau memancarkan tenaga ke sensor. Pengenalan obyek pada dasarnya dilakukan menyidik karakteristik spektral obyek yang tergambar pada citra.

4)      Sensor, tenaga yang datang dari obyek di permukaan bumi diterima dan direkam oleh sensor. Tiap sensor mempunyai kepekaan tersendiri terhadap bagian spektrum elektro magnetik. Kemampuan sensor untuk menyajikan gambar obyek terkecil disebut resolusi spasial. Semakin kecil obyek yang dapat direkam oleh sensor, semakin baik kualitas sensornya.

5)      Perolehan data,  perolehan data dapat dilakukan dengan cara manual yakni dengan interpretasi visual, dan cara digital atau cara numeric yaitu dengan menggunakan computer.

6)      Pengguna data, keberhasilan aplikasi penginderaan jauh terletak pada dapat diterima atau tidaknya hasil penginderaan jauh oleh pengguna data.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar