Selasa, 04 April 2017

PERKEMBANGAN KOTA


2.1              Perkembangan Kota

2.2.1    Definisi Perkembangan Kota

Perkembangan kota (urban growth) merupakan kuantitatif bertambahnya ukuran areal terbangun (Fodor.E.,1999). Proses pertumbuhan kota dan perkembangan erat kaitanya dengan pertambahan penduduk yang terus menerus. Pertambahan penduduk yang terus menerus membawa konsekuensi spasial. Konsekuensi spasialnya yaitu meningkatnya tuntutan akan ruang di kota akan hunian dan bangunan-bangunan untuk mengadopsi kegiatan di dalamnya dengan ditandai meningkatnya volume dan frekuensi kegiatan penduduk (Yunus, 2005). Riyadi (2001) mendefinisikan perkembangan kota merupakan suatu proses perubahan keadaan perkotaan dari suatu keadaan ke keadaan yang lain dalam waktu yang berbeda.

 Yunus (2005) mengemukakan untuk mengenali pertumbuhan kota seiring kemajuan sistem informasi dan kemajuan teknologi khususnya teknik penginderaan jauh dalam inventarisasi data, maka pertumbuhan kota dapat dimonitor dengan cepat dan tepat terutama keadan fisikalnya.

Mengacu pada definisi Riyadi (2001) maka membutuhkan minimal 2 waktu perekaman dalam menganalisis perubahan perkembangan kota.



2.2.2    Konsep-konsep Perkembangan Kota

Teori terkait pertumbuhan kota sebagai berikut.

Tabel 2. 2 Ringkasan Teori-teori terkait Pertumbuhan Kota

No
Teori
Penjelasan
1
 Teori Konsentris
Teori ini dikemukakan oleh E.W. Burges (1925) bahwa kota i meluas secara merata dari satu inti asli, sehingga tumbuhlah zona yang meluas sejajar dengan pertahapan kolonisasi kearah zona yang letaknya paling luar.
2
Teori Sektor

Teori ini dikemukakan oleh Hoyt (1939) bahwa perkembangan-perkembangan baru yang terjadi disuatu kota, berangsur-angsur menghasilkan kembali karakter yang dipunyai oleh sector-sektor yang sama terlebih dahulu.
Kecenderungan sektor pembentukan sektor terjadi tidak secara kebetulan tetapi adanya asosiasi keruangan khususnya aspek lokasi. Dalam penelitiannya Hoyt terkait sektor permukiman bernilai tinggi menemukan 10 (sepuluh) kenampakan yang mempunyai peranan besar dalam pembentukan sektor yaitu (1) sepanjang jalur transportasi yang menuju pusat perdagangan, (2) daerah-daerah yang relatif lebih tinggi (3) bagian-bagian kota yang terbuka untuk pengembangan yang lebih lanjut, (4) mendekati pemuka masyarakat, (5) cenderung berkembang kearah kompleks bangunan perkantoran, (6) cenderung berkembang sepanjang jalur transportasi cepat, (7) cenderung berkembang kearah yang sama pada periode waktu yang lama, (8) dekat dengan kegiatan pada daerah permukiman lama, (9) inisiatif promotor “real estate” dan (10) mengikuti salah satu sector pada kota yang bersangkutan.
Dalam pertumbuhan sektor-sektor dalam teori Sektor, dikemukakan ada tiga macam jenis pertumbuhan :
1)       Pertumbuhan Vertikal, yaitu daerah dihuni oleh struktur
2)       Pertumbuhan Memampat, yaitu apabila wilayah suatu kota masih cukup tersedia ruang-ruang kosong untuk bangunan tempat tinggal dan bangunan lainnya.
3)       Pertumbuhan mendatar kearah luar (sentrifugal), yaitu biasanya terjadi karena adanya kekurangan ruang bagi tempat tinggal dan kegiatan lainnya. Pertumbuhan centrifugal dibedakan menjadi 3 macam yaitu :
·         Pertumbuhan datar aksial, pertumbuhan kota yang memanjang dipengaruhi oleh jalur transportasi.
·         Pertumbuhan datar Tematis, pertumbuhan lateral suatu kota tipe dilatarbelakangi oleh keadaan khusus.pertumbuhan datar Kolesen, perkembangan lateral ketiga ini terjadi karena adanya gabungan dari perkembangan tipe satu dan dua.
3
Teori Pusat Kegiatan Ganda

Dalam teori ini, suatu kota dibentuk oleh pusat-pusat kegiatan fungsional kota yang tersebar dan masing-masing pusat mempunyai peranan penting di dalam kota.
4
Teori Poros
Teori poros pertamakali dikemukakan oleh Babcock (1932). Teori poros berpandangan bahwa transportasi mempengaruhi struktur keruangn kota.

Sumber : Yunus (2005)



2.2.3    Proses Perkembangan Kota

Perkembangan kota secara spasial identik dengan teori difusi yang dikemukakan oleh Hagerstrand (1953; dalam Bintarto, 1991). Istilah difusi berarti pemencaran, penyebaran, atau penjalaran. Dalam geografi, difusi mempunyai dua arti yang berbeda. Pertama difusi ekspansi (expansion diffusion) yaitu suatu proses di mana informasi, material dan sebagainya menjalar melalui suatu populasi dari suatu daerah ke daerah lain.. Dalam proses ekspansi ini informasi atau material yang di-difusi-kan tetap ada dan kadang-kadang menjadi lebih intensif di tempat asalnya. Ini berarti daerah asal mengalami perluasan oleh karena terdapat tambahan anggota baru dalam populasi.

Kedua, difusi penampungan (relocation diffusion) merupakan proses yang sama dengan penyebaran keruangan dimana informasi, material yang di difusikan meninggalkan daerah yang lama dan berpindah atau ditampung di daerah yang baru. Difusi ekspansi masih dibedakan menjadi dua jenis yaitu

1)      Difusi menjalar (contagious diffution) dimana proses menjalarnya terjadi dengan kontak yang langsung.difusi menjalar mempunyai kecenderungan untuk menjalar secara sentrifugal dari daerah sumbernya.

2)      Difusi Kaskade (cascade diffution) adalah proses penjalaran atau penyebaran fenomena melalui beberapa tingkat atau hierarki.

Hagerstrand (1953; dalam Bintarto, 1991), difusi keruangan memiliki enam unsur. Pertama daerah (area) atau lingkungan dimana proses difusi terjadi. Unsur kedua adalah waktu (time), dimana dufusi dapat terjadi terus menerus dalam waktu yang terpisah-pisah. Unsur ketiga adalah item yang didifusikan. Unsur kempat adalah perbedaan tempat asal. Unsur kelima adalah tempat tujuan, unsur keenam adalah jalur perpindahan yang dilalui oleh item yang didifusikan.

Yunus (2005) menyebutkan secara fisikal, proses perkembangan spasial secara fisikal tampak ada 2 bentuk perkembangan yaitu proses sentrifugal dan proses perkembangan secara sentripetal.

1)      Proses perkembangan spasial sentrifugal

Proses perkembangan spasial sentripetal adalah suatu proses bertambahnya ruang kekotaan yang berjalan kearah luar dari daerah kekotaan yang sudah terbangun dan mengambil tempat di daerah pinggiran kota. Proses ini merupakan pemicu dan pemacu bertambah luasnya areal kekotaan.

Faktor pengaruh terhadap variasi spasial sentrifugal (Lee, 1979; dalam Yunus, 2005) terdapat 6 faktor yaitu 1) faktor aksesbilitas, 2) factor pelayanan umum, 3) karakteristik lahan, 4) karakteristik pemilik lahan, 5) keberadaan peraturan-peraturan yang mengatur tata guna lahan dan 6) prakarsa pengembang.

Ekspresi spasial perkembangan sentripetal ada 3 macam, yaitu (1) perkembangan memanjang; (2) perkembangan lompat katak dan (3) perkembangan konsenstris. Proses perkembangan spasial sentrifugal memanjang adalah suatu proses penambahan areal kekotaan yang terjadi di sepanjang jalur-jalur memanjang di daerah terbangun. Bentuk perkembangan spasial sentrifugal lompat katak adalah bentukperkembangan areal kekotaan yang terjadi secara sporadis di luar daerah terbangun utamanya dan daerah pembangunan baru yang terbentuk berada di tengah daerah yang belum terbangun.

2)      Proses perkembangan spasial sentripetal

Proses perkembangan spasial sentripetal adalah suatu proses penambahan bangunan-bangunan kekotaan yang terjadi dibagian dalam kota (the inner parts of the city). Perkembangan spasial sentripetal ada dua macam yaitu (1) perkembangan horizontal dan (2) perkembangan vertikal. Perkembangan horizontal adalah proses penambahan ruang yang mengakomodasi kegiatan dengan cara mendirikan bangunan secara mendatar pada bagian dalam kota yang masih kosong. Perkembagan vertikal adalah proses penambahan ruang dibagian dalam kota dengan cara membangun bangunan bertingkat dengan tujuan memperoleh ruang yang lebih luas untuk mengakomodasi  kegiatan.

2.2.4    Faktor-Faktor  Perkembangan Kota

Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap proses perkembangan kota secara spasial ditunjukkan pada Tabel 2.3

Tabel 2. 3 Faktor-faktor Perkembangan Kota

No
Peneliti
Faktor spasial yang berpengaruh
Lokasi Penelitian
1
Marwasta, Jaka
(2014)
Faktor yang berpengaruh signifikan antara lain :
1.      Faktor Pelayanan publik
2.      Faktor aksesbilitas
3.      Faktor karakteristik pemilik lahan
4.      Karakteristik lahan
Faktor yang kurang berpengaruh signifikan antara lain : kebijakan tata ruang dan prakarsa pengembang.

KekotaanYogyakarta
2
Susilo, Bowo
(2016)
Faktor yang berpengaruh signifikan terhadap perubahan :
1.      Jarak terhadap pusat kota
2.      Jarak terhadap jalan utama
3.      Jarak terhadap jalan lokal
4.      Jarak terhadap kampus
5.      Jarak terhadap kantor pemerintahan
Faktor yang memiliki hubungan kurang signifikan terhadap perubahan yaitu faktor lereng dan Jarak terhadap permukiman


Perkotaan Yogyakarta
3
Karsidi
(2011)
Faktor yang digunakan untuk membangun model perkembangan kota, yaitu:
1.      Jarak dari area kota
2.      Jarak dari pertanian
3.      Jarak dari jalan
4.      Jarak dari sungai
Bogor
4
Bintang Aulia Pradnya Paramita
(2011)
Faktor yang berpengaruh dan digunakan dalam pembuatan peta potensi pengembangan terdiri dari tiga kriteria, yaitu :
1.      Kriteria jarak (jarak terhadap jalan)
2.      Kriteria kepadatan (kepadatan bangunan)
3.      Kriteria kebijakan (kebijakan tata ruang dan kerawanan bencana).
Kawasan Perkotaan Kedungsepur

Sumber : Hasil Komparasi, 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar