Selasa, 04 April 2017

Pemanfaatan Citra Landsat Multitemporal untuk Prediksi Perkembangan Kota dengan Menggunakan Cellular Automata (Kasus di Kota Surabaya, Jawa Timur)


Pemanfaatan Citra Landsat Multitemporal untuk Prediksi Perkembangan Kota dengan Menggunakan Cellular Automata (Kasus di Kota Surabaya, Jawa Timur)



Muhammad Sri Harta*1,





Perkembangan kota dapat disadap, diukur, dan diprediksi perkembangannya menggunakan citra Landsat multitemporal. Tujuan penelitian ini adalah (1) mengkaji kemampuan citra Landsat multitemporal dalam mengekstrak elemen-elemen morfologi kota untuk dimanfaatkan sebagai informasi perkembangan kota Surabaya tahun 1994-2014 dan untuk prediksi perkembangan Kota Surabaya pada tahun 2034; (2) memetakan dan menganalisis pola, laju pertumbuhan, serta arah perkembangan Kota Surabaya tahun 1994-2014; dan (3) melakukan prediksi perkembangan Kota Surabaya secara spasial pada tahun 2034 berdasarkan kecenderungan perkembangan Kota Surabaya tahun 1994-2014.

Penelitian ini menggunakan citra Landsat 5 perekaman 8 Juli 1994 dan Landsat 8 perekaman 1 September 2014. Metode untuk mengekstrak elemen-elemen morfologi kota menggunakan kombinasi analisis digital dan interpretasi visual. Analisis digital  diolah menggunakan decision tree dengan data masukan berupa Index-based Built-up Index (IBI), Rasio Band SWIR2/SWIR1, dan Normalized Difference Bareness Index (NDBaI) untuk ekstrasi lahan terbangun dan bukan terbangun, sedangkan interpretasi visual untuk mengekstrak jaringan jalan. Metode yang digunakan untuk memetakan dan menganalisis pola, laju pertumbuhan, serta arah perkembangan adalah analisis spasial dengan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). Metode untuk prediksi perkembangan Kota Surabaya menggunakan Cellular Automata (CA).

Hasil ekstraksi tematik elemen morfologi kota dari citra Landsat multitemporal tahun 1994 dan 2014 dengan kombinasi analisis digital dan interpretasi visual citra dihasilkan untuk citra Landsat 5 tahun 1994 overall accuracy  88 % dan indeks kappa= 0,69 dalam kategori Baik (Substantial), sedangkan dari citra Landsat tahun 2014 diperoleh overall accuracy 94% dan nilai kappa= 0,87 dalam kategori Sangat Baik (Almost Perfect). Kuantias perkembangan kota Surabaya pada periode 1994-2014 sebesar 61.398.900 m2 atau 11%. Pola perkembangan kota Surabaya teridentifikasi 3 tipe perkembangan yaitu ekspansi ke luar dan ke dalam, Leap Frog, dan memanjang. Laju perkembangan kota Surabaya periode 1994-2014 dengan high change  mengarah ke arah selatan (S) radius 12-14 km, arah barat daya (SW) radius 15-16 km, arah barat (W) radius 5-12 km, timur laut (NE) radius 5 km, arah Timur (E) pada radius 4-6 km, dan tenggara (SE) radius 12 km. Kecenderungan arah perkembangan kota Surabaya 1994-2014 mengarah ke Barat Laut (Northwest) dan Tenggara (Southeast). Arah perkembangan kota tahun 2034 diprediksi cenderung ke arah Timur dan Barat Kota Surabaya.

Kata kunciPerkembangan Kota, Citra Landsat, Cellular Automata



1.         PENDAHULUAN

Pada dasarnya kota dan perkembangannya dapat dideteksi, diukur, dan dimodelkan dinamika spasialnya dengan menggunakan data time series dari citra perekaman satelit Landsat. Konsistensi akuisisi data satelit Landsat berpotensi sebagai sumber informasi utama dalam menyadap kota dan perkembangannya. Data spasial temporal tinggi dapat digunakan untuk analisis perubahan secara berseri dari waktu ke waktu.  Selain itu, data temporal tinggi berpotensi untuk menyadap elemen morfologi kota  dari waktu ke waktu seperti jumlah, bentuk, kepadatan, bentuk tekstur, dan persebaran dari area terbangun (Webster 1995; mesev et al 1995; dalam Bhatta, 2010).

Penelitian ini dilakukan di Kota Surabaya. Menurut Tjahyati, dalam Wiyono, P. dkk. (2013), trend pertambahan jumlah penduduk di Kota Surabaya cenderung positif, laju pertumbuhan penduduknya 5,5 % per tahun pada dekade 1980-1990 dan 6 % pada dekade 1990-2000. BAPPENAS & BPS (2013) juga memprediksi jumlah penduduk Indonesia tahun 2035 akan terus meningkat, yaitu dari 238,5 juta pada tahun 2010 menjadi 305,6 juta pada tahun 2035. Sehubungan hal tersebut, mengindikasikan adanya potensi perkembangan kota di Kota Surabaya secara berkala. Perkembangan fisikal kota yang cepat dan tidak ada upaya manajemen dapat membawa dampak negatif, seperti terjadinya proses densifikasi yang tidak terkontrol, death point, hingga memicu gejala deteriorisasi lingkungan (Yunus, 2005).

Prediksi perkembangan kota pada masa mendatang secara spasial tidak sederhana, karena memerlukan teknik geospasial yang mampu merepresentasikan dinamika perkembangan kota. Salah satu metode prediksi perkembangan kota secara spasial adalah menggunakan Cellular Automata (CA) yang diintegrasikan dengan Sistem Informasi Geografis (SIG). Integrasi CA dan SIG telah mampu merepresentasikan dinamika perkembangan kota. Integrasi CA & SIG terbukti dapat merepresentasikan keterkaitan spasial dari perubahan serta dapat dipakai untuk memprediksi perkembangan kota (Karsidi, 2004).

Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah :

(1)    Mengkaji kemampuan citra Landsat multitemporal dalam mengekstrak elemen-elemen morfologi kota untuk dapat dimanfaatkan sebagai informasi perkembangan kota Surabaya tahun 1994-2014 dan dapat digunakan untuk prediksi perkembangan kota Surabaya di masa depan tahun 2034;

(2)    Memetakan dan menganalisis pola, laju pertumbuhan, serta arah perkembangan kota Surabaya tahun 1994-2014;

(3)    Melakukan prediksi perkembangan kota Surabaya secara spasial pada tahun 2034 dengan menggunakan Cellular Automata (CA) berdasarkan kecenderungan perkembangan kota Surabaya tahun 1994-2014.

2.         LOKASI PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan di Kota Surabaya (Gambar 1). Kota Surabaya terletak pada garis Lintang Selatan antara 70 9` – 70 21`, dan 1120 36`  1120 37` Bujur Timur.


Gambar 1. (a) Titik Kota Surabaya di Indonesia; (b) Region Kota Surabaya di Provinsi Jawa Timur; dan  (c) Lokasi Penelitian

3.         METODOLOGI

3.1     Data

Data penelitian yang digunakan di dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

·         Citra Landsat TM Tahun 1994 dan Citra Landsat OLI Tahun 2014 (Tabel 1).

Tabel 1.  Data Citra Landsat Multitemporal

Citra
Sensor
Bit
Tanggal Perekaman
Sun Azimuth
Sun Elevation
Path/Raw
Landsat 5
TM
8
1994-07-08
51.47033214
41.10739486
  118/65
Landsat 8
OLI_TIRS
16
2014-09-01

61.37042240
58.09552897
118/65

·         Citra SPOT 6 tahun 2015 (Tanggal perekaman 26 Juni 2015)

·         Data digital peta RBI BIG Tahun 1999, Kota Surabaya Skala 1:25.000

·         Peta Rencana Pola Ruang , Struktur Ruang, dan Kawasan Strategis dari RTRW Kota Surabaya Tahun 2014-2034.

3.2     Metode

(1)      Ekstraksi Tematik Morfologi Kota dari Data Landsat Multitemporal

Metode ekstraksi tematik morfologi kota dari citra Landsat multitemporal di penelitian ini menggunakan teknik interpretasi kombinasi interpretasi digital dan visual. Teknik interpretasi ini merupakan perpaduan antara hasil dari proses analisis digital terhadap nilai piksel dan hasil interpretasi visual citra penginderaan jauh menggunakan bantuan Sistem Informsi Geografis. Analisis digital di penelitian ini menggunakan metode klasifikasi decision tree. Klasifikasi decision tree dalam penelitian ini dibangun dan dijalankan menggunakan aplikasi SAGA 2.2.7 (Conrad, O.,  et al, 2015). Pembangunan klasifikasi decision tree dalam penelitian ini akan  ada tiga tahap dari 3 parameter yaitu IBI (Index-based Built-up Index), Rasio Band SWIR2/SWIR1, dan NDBaI (Normalized  Difference Bareness Index). Metode ekstraksi tematik elemen morfologi kota dari data citra Landsat  dalam penelitian ini ditunjukkan pada Gambar 3.2.


Gambar 2. Proses Pengolahan Citra Digital menggunakan Metode Hibrida

(2)      Analisis Perkembangan Kota

Metode analisis perkembangan Kota Surabaya tahun 1994-2014 menggunakan metode tumpangsusun (overlay) untuk menghasilkan peta perubahan secara spasial. Kemudian hasil overlay dua peta tersebut, dianalisis secara kualitatif dan kuantitif perubahannya. Secara kualitatif, analisis perkembangan kota akan mengidentifikasi pola perkembangan kota melalui interpretasi visual spasiotemporal morfologi kota tahun 1994 dan 2014. Hasil analisis tersebut, pola perkembangan kota dikelompokkan menjadi 3 kategorial, yaitu (1) Ekspansi, (2) Leap Frog, dan (3) Memanjang. Secara kuantitatif, data perubahan didapatkan dari  transision matrix untuk mengukur perubahan (changes) dari kelas penggunaan lahan yang berbeda antar periode waktu. Keluaran tersebut, selanjutnya diklasifikasikan menjadi 3 kelas untuk mengidentifikasi distribusi besaran perubahan. Secara kartografis, visualisasi hasil distribusi besaran perubahan di wujudkan dalam Peta Dot (Peta Titik). Peta titik tersebut dikombinasikan dengan arah mata angin untuk memudahkan dalam analisis arah perkembangan berdasarkan besaran perubahan.



(3)      Prediksi Perkembangan Kota mengggunakan Cellular Automata

Prediksi perkembangan kota dalam penelitian ini menggunakan Cellular Automata dengan bantuan SIG. Software yang digunakan untuk menjalankan simulasi adalah LanduseSim 2.3.1 (Pratomoadmodjo, N.A., 2016). Beberapa input yang digunakan dalam proses pengolahan simulasi dengan Cellular Automata di LanduseSim 2.3.1 yaitu : (1) Inisial Landuse yaitu peta tahun awal (T1) yang akan dugunakan sebagai peta dasar untuk melakukan prediksi pada tahun ke-n; (2) Neighbourhood Filter yaitu cell yang berdekatan dengan cell yang bersangkutan; (3) Set of Transision Rule, Set of transision rules terdiri dari jenis landuse yang tumbuh, kuantitas tumbuh/growth, peta probabilitas transisi, constrains/pembatas yang tidak akan berubah, dan elasticity of change berupa probabilitas  jenis landuse yang berubah. Penentuan kuantitas tumbuh di penelitian ini menggunakan formula (persamaan 1) yang pernah digunakan oleh  Allen, Jeffery dan Lu, Kang (2003).

 ...................................(persamaan 1)

Dimana r adalah rasio growth; Po merupakan jumlah penduduk tahun awal (t0); P1 merupakan jumlah penduduk tahun terakhir (t1); A0 merupakan luas area terbangun pada tahun awal (t0); dan A1 merupakan luas area terbangun pada tahun terakhir (t1).

Peta probabilitas transisi yang digunakan adalah penggabungan dari model probabilitas yaitu model regresi logistik, model Neighbourhood landuse/lancover eksisting, dan model faktor pembatas. Formula pembentuk model probabilitas transisi  perubahan ditunjukkan persamaan 2. Formulasi tiap model probabilitas transisi disajikan di Tabel 2.

Pi Total  = Pi MCt0-t1  * Pi RL t0-t1 * Pi Nt0  * Pi Ct0-t1 ........................................................(persamaan 2)

Keterangan : MC (Markov Chain), RL ( Regresi Logistik), N (Neigbourhood), C (Constrain/pembatas)



Tabel 2. Model Probabilitas Transisi

Model
Formula
Sumber
Markov Chain
Bell,1974
Model Regresi Logistik
Y= ln = β0 + β1X1 + β2X2 + …. + βkXk

McFadden, 1973
Model Neigbourhood tutupanlahan tahun dasar
Verburg, et al., 2004
Model Faktor Pembatas
Reklasifikasi [1,0]; 0 untuk zona lindung dan faktor pembatas pertumbuhan,; 1 untuk zona budidaya atau zona dapat berubah.
-



Cara kalibrasi dan validasi dalam penelitian ini akan menggunakan tes statistik Kappa. Prosedur uji kalibrasi dan validasi adalah mevalidasi peta hasil simulasi tahun 2014  dengan data rujukan peta hasil klasifikasi morfologi tahun 2014.



4.         HASIL DAN PEMBAHASAN


Secara statistik, hasil uji akurasi kombinasi interpretasi digital dan visual citra Landsat 5 tahun 1994 diperoleh overall accuracy  88 % dan indeks kappa= 0.69 dalam kategori Baik (Substantial) (Landis & Koch, 1977), sedangkan hasil perhitungan uji akurasi untuk peta hasil kombinasi interpretasi digital dan visual citra Landsat tahun 2014 diperoleh overall accuracy 94%. dan nilai kappa= 0,87 dalam kategori Sangat Baik (Almost Perfect) (Landis & Koch, 1977). Hal ini menunjukkan bahwa hasil kombinasi interpretasi digital dan visual dari data citra Landsat 5 tahun 1994 dan Landsat 8 tahun 2014 telah memenuhi ketentuan yaitu harus lebih besar dari 85% (USGS, 1972). Hasil interpretasi disajikan di Tabel 2.

Tabel 2. Hasil Klasifikasi Hibrida Citra Landsat Tahun 1994 dan 2014

No
Klasifikasi
1994
2014
Pixel
Ha
%
Pixel
Ha
%
1
Terbangun
162460
14.621,40
28%
230216
20.719,44
39%
2
Bukan terbangun
426745
38.407,05
72%
358989
32.309,01
61%

Total
589205


589205
.


Sumber : Hasil Pengolahan, 2016

Berdasarkan Tabel 2,  luasan area terbangun tahun 1994 adalah 162460 pixel atau 14.621,40 Ha dan luasan area bukan terbangun sebesar 426745 pixel atau 38.407,05 Ha. Secara prosentase, hasil klasifikasi citra Landsat tahun 1994 adalah 28% untuk terbangun dan 72% untuk bukan terbangun Hasil klasifikasi citra Landsat tahun 2014 didapatkan luasan area terbangun tahun 2014 adalah 230216 pixel atau 20.719,44 Ha dan luasan area bukan terbangun sebesar 358989 pixel atau 32.309,01 Ha. Secara prosentase, hasil klasifikasi citra Landsat tahun 2014 adalah 39% untuk terbangun dan 61% untuk bukan terbangun

(2)      Analisis Perkembangan Kota Surabaya Tahun 1994-2014

a)    Kuantitas Perkembangan Kota Surabaya tahun 1994-2014

Hasil analisis overlay, didapatkan bahwa perubahan lahan terbangun Kota Surabaya Tahun 1994-2014 sebesar 61.398.900 m2 atau terjadi perubahan sebesar 11%. Trend perkembangan kota secara statistik di Gambar 4, trend menunjukkan bahwa perkembangan lahan terbangun Kota Surabaya dalam periode  1994-2014 menunjukkan trend naik. Hal ini menunjukkan area terbangun Kota Surabaya dalam periode bertambah luasan. Luas lahan bukan terbangun menunjukkan trend menurun, menunjukkan  terjadi pengurangan luas area bukan terbangun. Visualisasi fenomena perkembangan Kota Surabaya pada periode 1994-2014 melalui overlay peta morofologi kota tahun 1994 dan peta morfologi kota tahun 2014 disajikan pada Gambar 5.


Gambar 4. Trend Perkembangan Kota Surabaya 1994-2014

Sumber : Hasil Pengolahan, 2016

(a)
 (b)

(c)

Gambar 5. (a) Peta Morfologi Kota Surabaya Tahun 1994 dari Hasil Klasifikasi Hibrida; (b) Peta Morfologi Kota Surabaya Tahun 2014 dari Hasil Klasifikasi Hibrida ;(c). Peta Perkembangan Kota Surabaya 1994-2014

b)   Pola, Arah Perkembangan Kota Tahun 1994-2014

Pola perkembangan Kota Surabaya tahun 1994-2014 (Gambar 2. A) teridentifikasi 3 tipe pola perkembangan yaitu (1) ekspansi ke luar dan ke dalam, (2) Leap Frog, dan (3) memanjang. Ekspansi ke arah luar terjadi di arah perbatasan Surabaya dan Sidoarjo khususnya di Kecamatan Waru, kearah barat dan timur Kota Surabaya. Ekspansi ke dalam ditandai perkembangan kota mengisi lahan kosong yang ada di dalam kota. Ekspansi ke dalam terjadi di Surabaya Pusat dan Surabaya Selatan. Pola perkembangan linier atau memanjang di wilayah penelitian teridentifikasi terjadi  di Jalan Raya Wiyung menuju arah Menganti (Kabupaten Gresik). perkembangan Leap Frog (meloncat) merupakan perkembangan yang meloncat ada di bagian Barat Kota Surabaya yang dirancang sebagai Kota Satelit, Timur Laut Surabaya tepatnya Pakuwon City, dan Gresik Kota Baru.

Arah dan laju perkembangan Kota Surabaya periode 1994-2014 (Gambar 2. b)dengan high change  mengarah ke arah selatan (S) di radius 12-14 km, arah SW pada radius 15-16 km, arah barat diradius 5-12 km, NE di radius 5 km, arah Timur (East) pada radius 4-6 km, dan Southeast di radius 12. Kecenderungan arah perkembangan kota Surabaya 1994-2014 mengarah ke Barat Laut (Northwest) dan Tenggara (Southeast).



(a)

(b)

Gambar 3.  (a) Peta Pola Perkembangan Kota Surabaya Tahun 1994-2014; (b) Peta Arah Perkembangan Kota Surabaya Tahun 1994-2014

(3)      Prediksi Perkembangan Kota Surabaya Tahun 2034

Prediksi Luasan Area Terbangun Tahun 2034

Prediksi luasan perubahan area terbangun dalam penelitian ini mengadopsi perhitungan yang digunakan Allen, Jeffery dan Lu, Kang (2003). Hasil perhitungan prediksi luas perkembangan Kota Surabaya bahwa rasio luas  Kota Surabaya tahun 1994-2014 sebesar 1,76. Hal ini menunjukkan rasio area terbangun lebih besar dari rasio perkembangan jumlah penduduk. Prediksi luas area terbangun di tahun 2034 didapatkan sebesar 326230 pixel, artinya perkembangan kota di tahun 2034 akan bertambah sebesar 96014 pixel.



Model Spasial Probabilitas Transisi

Model Probabilitas Markov Chain


Hasil model probabilitas markov chain dari data morfologi kota tahun 1994 dan 2014 berupa matriks transisi perubahan dan peta transisi perubahan. Berdasarkan perhitungan matriks transisi, nilai probabilitas perubahan lahan terbangun 0.8541. Visualisasi hasil probabilitas transisi markov chain ditunjukkan pada Tabel 3 dan Gambar 4.

Tabel 3. Tabel Matrik Probabilitas Perubahan Markov Chain

Probability of changing to
Cl. 1 
Cl. 2 
Class 1
0.8541
0.1459
Class 2
0.2176
0.7824

Ket: 1(terbangun); 2(bukan terbangun)

Sumber : Hasil Perhitungan, 2016



Sumber : Hasil Analisis, 2016

Model Probasbilitas Regresi Logistik


Model probabilitas regresi logistik dibangun berdasarkan data faktor pemicu perkembangan kota di Surabaya. Faktor spasial yang digunakan dalam perhitungan model logistik adalah faktor jarak dari jalan utama, faktor jarak dari bandara, faktor jarak dari pelabuhan, jarak dari terminal, jarak dari pusat UP, dan jarak dari lokasi strategis ekonomi. Perhitungan model regresi logistik dilakukan di SPSS, didapatkan nilai koefisien tiap faktor untuk membuat model regresi logistik. Koefisien hasil analisis regresi logistik ditunjukkan pada Tabel 4.


Faktor Pemicu
B
S.E.
Wald
df
Sig.
Exp(B)
95% C.I.for EXP(B)
Lower
Upper
Step 1a
Fn_jl94
-1,893
,237
63,768
1
,000
,151
,095
,240
Fn_bandara
-,727
,199
13,401
1
,000
,483
,327
,713
Fn_pelabuh
-1,304
,168
60,339
1
,000
,272
,195
,377
Fn_termi_1
-,433
,185
5,482
1
,019
,649
,451
,932
Fn_pusatUP
,550
,163
11,336
1
,001
1,733
1,258
2,387
Fn_Strat34
-,170
,123
1,930
1
,165
,843
,663
1,072
Constant
-1,833
,144
161,185
1
,000
,160


a. Variable(s) entered on step 1: Fn_jl94, Fn_bandara, Fn_pelabuh, Fn_termi_1, Fn_pusatUP, Fn_Strat34.

Berdasarkan Tabel 4, dapat diformulasikan model probabilitas transisi regresi logistik pada Tabel 5.

Tabel 5. Formula Regresi Logistik untuk Probabilitas Transisi

Fungsi Regresi Logistik : Y= ln = β0 + β1X1 + β2X2 + …. + βkXk
Y(Simulasi_2014)= (-1.893 * "Normalisasion\N_jalan94free.tif") + (-0.727 * "Normalisasion\N_bandara.tif") + (-1.304 * "Normalisasion\N_pelabuhan.tif") + (-0.433 * "Fn_terminal.tif") +(0.550 * "Normalisasion\N_pusatUP.tif") + (-0.170 * "Fn_StrategisEko.tif")-1.833


Berdasarkan Kurva ROC , Kurva ROC (Receive Operation Characteristic) merupahan kurva yang menunjukkan hubungan antara uji sensitifitas dan spesifitas dan digunakan untuk menerangkan ketepatan uji dalam berbagai tingkatan titik potong dalam membaca spesifitas yang sesuai dengan sensitifitas  yang ada. Kurva ROC akan menghasilkan nilai Area Under the Curve  dengan nilai berkisar antara 50-100%. Nilai AUC sebesar 100% menunjukkan kondisi ideal  uji ketepatan nilai prediksi dengan kondisi nyata dilapangan. Hasil uji kurva ROC di penelitian ini (Tabel  5) bahwa nilai AUC sebesar 84.5% dengan 95%.



Sumber: Hasil analisis, 2016






Test Result Variable(s):   Predicted probability 
Area
Std. Errora
Asymptotic Sig.b
Asymptotic 95% Confidence Interval
Lower Bound
Upper Bound
,868
,012
,000
,845
,892
a. Under the nonparametric assumption
b. Null hypothesis: true area = 0.5

Sumber: Hasil analisis, 2016

Berdasarkan perhitungan validasi model menggunakan nilai ROC (Gambar 5) dengan ditunjukkan pada nilai AUC dengan nilai 0.845 (Tabel 6). Nilai AUC tersebut lebih besar dari nilai minimal kebenaran 0.5, sehingga model regresi dapat digunakan untuk memangun model prediksi. Model spasial regresi logistik dioperasikan menggunakan Raster Calculator di ArcGIS.

(a)Tahun 1994-2014
(b)Tahun 2014-2034


Sumber : Hasil Analisis, 2016

Berdasarkan Gambar 6, probabilitas tinggi ditandai warna kuning, sedangkan probabilitas rendah ditandai biru. Pola probabilitas tinggi cenderung mengikuti pola jaringan jalan utama. Beberapa area yang memiliki probabilitas transisi tinggi terletak dekat jalan, dekat pelabuhan, dan bandara.



Model Probabilitas Neighbourhood


Model probabilitas neighbourhood merupakan penilaian terhadap nilai penggunaan lahan eksisiting berdasarkan nilai tetangganya lahan terbangun pada penelitian ini dinilai 0 dengan asumsi saat simulasi tidak akan terjadi perubahan menjadi lahan bukan terbangun. Nilai bukan terbangun pada penelitian, untuk memberikan peluang terkonversi menjadi lahan terbangun saat simulasi model. Nilai range probabilitas neighbourhood ditunjukkan pada Gambar 7. Biru menunjukan probabilitas rendah dengan nilai mendekati angka 0, sedangkan merah bernilai semakin tinggi dengan nilai mendekati 1. Perhitungan ketetanggaan pada penelitian ini menggunakan persamaan yang dikembangkan oleh Verburg, et al (2003).

P neigbourhood tahun 1994
P neigbourhood tahun 2014


Sumber : Hasil Analisis, 2016

Model Probabilitas Faktor Pembatas/Constrains


Model Probabilitas Faktor pembatas bernilai 1 dan 0. Asumsi nilai 1 untuk pixel yang dapat berubah sedangkan nilai 0 untuk daerah yang tidak akan dapat berubah seperti lahan terbangun eksisting, jalan, dan kawasan lindung. Pixel dengan nilai 0 supaya nilai akhir tetap nol. Jadi dengan memberikan nilai nol pada kawasan pembatas maka saat simulasi prediksi pada tahun t ke-n tidak akan mengalami perubahan. Visualisasi Model Probabilitas Faktor Pembatas dapat dilihat pada Gambar 8.

(a)
(b)

Gambar 8. Model Probabilitas Faktor Pembatas (a) Tahun 1994-2014 (b) Tahun 2014-2034

Sumber : Hasil Analisis, 2016

Simulasi Prediksi Perkembangan Kota

Prediksi perkembangan Kota Surabaya tahun 2034 dimaksudkan untuk memahami fenomena kecenderungan perkembangan kota di masa mendatang. Secara kuantitatif, ekspektasi perkembangan kota Surabaya 20 tahun ke depan di tahun 2034 dengan  skenario nilai r= 1,76, diprediksi luas area terbangunnya sebesar 326.230 piksel, artinya perkembangan kota di tahun 2034 akan bertambah sebesar 96014 pixel. Hasil simulasi perkembangan kota menggunakan Cellular Automata di LanduseSim disajikan pada Gambar 9. Hasil Validasi model dari Peta Hasil Simulasi tahun 2014 dan Peta Reference Morfologi Kota Surabaya termasuk kategori Baik (Substantial) dengan nilai Kappa= 0.70086, yang berarti perkembangan kota surabaya ke depan  tahun 2030 dapat diprediksi menggunakan model CA- Integrated Model of Transisi probabilities. Arah perkembangan kota tahun 2034 diprediksi cenderung ke arah Timur dan Barat Kota Surabaya.



(a)    Model Probabilitas Transisi untuk Simulasi Perkembangan Kota Tahun 2014


(b)    Model Probabilitas Transisi untuk Simulasi Perkembangan Kota Tahun 2034

(c)    Morfologi Kota Surabaya Tahun 2014 dari Hasil Interpretasi

(d)    Morfologi Kota Surabaya Tahun 2014 dari Hasil Simulasi CA

(e)    Morfologi Kota Surabaya Tahun 2034 dari Hasil Simulasi CA

Gambar 9. Visualisasi Simulasi Prediksi Perkembangan Kota menggunakan Cellular Automata

5.         KESIMPULAN

Ekstraski tematik elemen-elemen morfologi kota dari citra Landsat multitemporal tahun 1994 dan tahun 2014 dengan menggunakan kombinasi teknik interpretasi digital dan visual terbukti dapat diekstrak informasi tematik morfologi  Kota Surabaya tahun 1994-2014. Secara statistik, hasil uji akurasi interpretasi hibrida citra Landsat 5 tahun 1994 diperoleh overall accuracy  88 % dan indeks kappa= 0.69 dalam kategori Baik (Substantial), sedangkan hasil perhitungan uji akurasi untuk peta hasil interpretasi citra Landsat tahun 2014 diperoleh overall accuracy 94%. dan nilai kappa= 0,87 dalam kategori Sangat Baik (Almost Perfect). Hal ini menunjukkan bahwa hasil kombinasi teknik interpretasi digital dan visual dari data citra Landsat 5 tahun 1994 dan Landsat 8 tahun 2014 telah memenuhi ketentuan yaitu harus lebih besar dari 85%. 

Karakteristik perkembangan Kota Surabaya tahun 1994-2014 secara spasial dapat diidentifikasi dari kuantitas, pola, arah perkembangannya. Kuantias perkembangan kota pada periode 1994-2014 sebesar 61.398.900 m2 atau 11%. Pola perkembangan Kota Surabaya teridentifikasi 3 tipe perkembangan yaitu (1) ekspansi ke luar dan ke dalam, (2) Leap Frog, dan (3) memanjang. Laju perkembangan kota Surabaya periode 1994-2014 dengan high change  mengarah ke arah Selatan (S) di radius 12-14 km, arah Barat Daya (Southwest) pada radius 15-16 km, arah Barat diradius 5-12 km, Barat Laut (Northeast) di radius 5 km, arah Timur (East) pada radius 4-6 km, dan Tenggara (Southeast) di radius 12. Kecenderungan arah perkembangan Kota Surabaya 1994-2014 mengarah ke Barat Laut (Northwest) dan Tenggara (Southeast) .

Perkembangan Kota Surabaya tahun 2034 dapat diprediksi menggunakan integrasi Sistem Informasi Geografis dan Cellular Automata. Nilai kalibrasi peta Hasil Simulasi Tahun 2014 dan Peta Referensi Morfologi kota Surabaya dihasilkan nilai Kappa= 0.70086 yang termasuk kategori Baik (Substantial). Arah perkembangan kota tahun 2034 diprediksi cenderung ke arah Timur dan Barat Kota Surabaya.

6.         DAFTAR PUSTAKA

Allen, J. and Lu, K., 2003. Modeling And Prediction Of Future Urban  Growth  In  The  Charleston  Region  Of  South Carolina: A Gis-Based Integrated Approach, Journal of Conservation Ecology, Vol. 8, No. 2. http://www.ecologyandsociety.org/vol8/iss2/art2/  diakses 14/07/2016

Statistik, B.P., 2013. Proyeksi Penduduk Indonesia 2010-2035. Jakarta: Badan Pusat Statistik, pp.1-472.

Bell, E.J., 1974. Markov analysis of land use change—an application of stochastic processes to remotely sensed data. Socio-Economic Planning Sciences, 8(6), pp.311-316.

Bhatta, B., 2010. Analysis of urban growth and sprawl from remote sensing data. Springer Science & Business Media.

BPS., 2015. Surabaya dalam angka 2015. Jakarta : Badan Pusat Statistik

Conrad, O., Bechtel, B., Bock, M., Dietrich, H., Fischer, E., Gerlitz, L., Wehberg, J., Wichmann, V. and Böhner, J., 2015. System for automated geoscientific analyses (SAGA) v. 2.1. 4. Geoscientific Model Development, 8(7), pp.1991-2007.

Handinoto & Soehargo, P.H., 1996. Perkembangan Kota dan Arsitektur Kolonial Belanda di Malang. Surabaya: Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Kristen PETRA.

Ji, L., Zhang, L. and Wylie, B., 2009. Analysis of dynamic thresholds for the normalized difference water index. Photogrammetric Engineering & Remote Sensing, 75(11), pp.1307-1317.

Karsidi, A., 2004. Menata ruang laut terpadu: analisis perubahan penggunaan lahan dinamis dengan sistem informasi geografis berbasis markov cellular automata. Jakarta: PT Pradnya Paramita

Landis, J.R. and Koch, G.G., 1977. The measurement of observer agreement for categorical data. biometrics, pp.159-174.

McFadden, D., 1973. Conditional logit analysis of qualitative choice behavior.

Pratomoatmojo, N.A., 2016. LanduseSimPractice: spatial modeling of settlement and industrial growth by means of cellular automata and Geographic Information System. Urban and Regional Planning Department, Sepuluh Nopember Institute of Technology, Surabaya.

Verburg, P.H., de Nijs, T.C., van Eck, J.R., Visser, H. and de Jong, K., 2004. A method to analyse neighbourhood characteristics of land use patterns. Computers, Environment and Urban Systems, 28(6), pp.667-690.

Wiyono, P., Putra, R.S.A. and Pratiwi, T.W., 2014. SURABAYA FRISHAPP: KOTA TERAPUNG MASA DEPAN DENGAN DESAIN “FLOATING RING SHAPED PLATE”. Program Kreativitas Mahasiswa-Gagasan Tertulis.

Yunus, H.S., 2005. Manajemen kota: perspektif spasial. Pustaka Pelajar.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar