2.1
Kota secara Fisik
2.1.1
Definisi Kota secara Fisik
Kota pada dasarnya
merupakan fakta geografis yang ada di permukaan bumi yang mengalami perubahan
yang sangat cepat yang dipengaruhi unsur manusia (Sutanto, 1981). Secara spesifik, Branch (1985)
mendefinisikan kota secara fisik sebagai area-area
terbangun diperkotaan yang terletak saling berdekatan, yang meluas dari
pusatnya hingga ke daerah pinggiran kota (Branch, 1985). Kota secara fisik
terdiri dari 3 tingkatan yaitu (1) bangunan – bangunan dan kegiatannya yang
berada di atas atau dekat muka tanah, (2) instalasi-instalasi dibawah tanah, dan
(3) kegiatan-kegiatan di dalam ruangan “kosong” di angkasa.
Branch (1985) menyebutkan unsur-unsur di dalam kota terdiri dari topografi, bangunan-bangunan, struktur atau bangunan lainnya yang bukan berupa gedung, jalur-jalur transportasi dan utilitas kota, ruang terbuka, kepadatan perkotaan,
klim, vegetasi, dan perancangan
perkotaan.
Kota secara fisik
atau morfologinya,Yunus (2005) mendefinisikan kota sebagai suatu daerah tertentu dengan
karakteristik pemanfaatan lahan non pertanian, pemanfaatan lahan mana sebagian
besar tertutup oleh bangunan baik bersifat residensial maupun non residensial
(secara umum tutupan bangunan/building coverage, pola jaringan jalan yang
kompleks, dalam satuan permukiman yang kompak (contiguous dan relatif lebih besar dari
satuan permukiman kedesaan di sekitarnya, sementara itu daerah yang
bersangkutan sudah/mulai terjamah fasilitas kota).
Berdasarkan
definisi diatas, maka definisi kota secara fisik
dalam penelitian ini adalah fakta geografis di permukaan bumi dan secara fisik pemanfaatan
lahannya berupa bangunan-bangunan dan ruang terbuka (ruang diantara bangunan yang dipertahankan
alami atau dibuat manusia/artefak).
2.1.2 Pendekatan Pokok terhadap Morfologi Kota
Herbert (1973; dalam Yunus, 2005) mengemukakan
bahwa tinjauan terhadap morfologi kota ditekankan pada bentuk-bentuk fisikal
dari lingkungan kekotaan yang tercermin pada sistem-sistem
jalan-jalan yang ada dan blok bangunan.
Cozen (1960; dalam
Yunus, 2005) mengembangkan
2 macam konsep untuk “ town plan analysis” yaitu : (1) “the
burgage cycle concept) (konsep siklus per plot) dimana tiap plot yang ada
ditelusuri perkembangannya mulai tahap-tahap “institutive” (mulai dibangun gedung), “replitive (mulai penuh dengan gedung), “climax” (tahap takmemungkinkan dibangun gedung-gedung lagi), “recessive (tahap kemrosostan). (2) “the fixation line concept” (konsep
pengenalan batas-batas karakteristik zona).
Dalam perancangan kota,
Trancik (1986; dalam Zahn, 1996) menyebutkan ada 3 teori perancangan kota untuk menganalisis kota yaitu
(1) Teori Figure/ground, (2) Teori Linkage dan (3) Teori Place.
Tabel 2. 1 Teori-Teori Perancangan Kota untuk Menganalisis
Kota
|
No
|
Teori
|
Penjelasan
|
|
1
|
Teori Figure/ground
|
Dipahami dari sisi pandang perkotaan sebagai
bentuk tekstural antara bentuk yang dibangun (building mass) dan ruang
terbuka (open space). Analisis figure ground adalah alat yang sangat baik
untuk mengidentifikasi tekstur dan pola-pola sebuah tata ruang perkotaan,
serta mengidentifikasi keteraturan massa dan ruang perkotaan
|
|
2
|
Teori Linkage
|
Pendekatan yang membahas hubungan pergerakan
atau kegiatan diantara keduanya (Figure dan Ground) didalam sebuah tata ruang
kota. Analisis linkage adalah alat yang baik untuk memperhatikan
dan menegaskan hubungan-hubungan dan gerak aktivitas pada sebuah ruang.
|
|
3
|
Teori Place
|
Pendekatan ini dipahami dari
segi, seberapa besar pentingnya ruang-ruang kota dikaitkan dengan nilai
kesejarahan, kehidupan budaya, dan kehidupan sosial masyarakatnya
|
Sumber : Zahn, 1996
Menurut Zahn (1996), ciri-ciri
morfologi, bentuk, dan wujud
kota dapat sangat berbeda antara suatu wilayah terhadap wilayah lain, namun
beberapa prinsip dan elemen arsitektur perkotaan tetap dapat diamati dimanapun
terkait susunannya. Elemen arsitektur perkotaan secara fisik dibagi menjadi dua
yaitu (1) massa perkotaan (struktur positif) dan (2) ruang secara khusus ruang
terbuka (struktur negatif). Skema elemen
kota dapat digambarkan sebagai berikut.
Gambar 2.1 Skema Elemen Kota
Sumber : Zahn, 1996
Berdasarkan
pendekatan pokok melihat morfologi kota, maka dalam penelitian ini akan
menggunakan variable terbangun (dari elemen massa) dan ruang terbuka (dari
elemen ruang).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar