Selasa, 04 April 2017

MORFOLOGI KOTA


2.1              Kota secara Fisik

2.1.1      Definisi Kota secara Fisik

Kota pada dasarnya merupakan fakta geografis yang ada di permukaan bumi yang mengalami perubahan yang sangat cepat yang dipengaruhi unsur manusia (Sutanto, 1981). Secara spesifik, Branch (1985) mendefinisikan kota secara fisik sebagai area-area terbangun diperkotaan yang terletak saling berdekatan, yang meluas dari pusatnya hingga ke daerah pinggiran kota (Branch, 1985). Kota secara fisik terdiri dari 3 tingkatan yaitu (1) bangunan – bangunan dan kegiatannya yang berada di atas atau dekat muka tanah, (2) instalasi-instalasi dibawah tanah, dan (3) kegiatan-kegiatan di dalam ruangan “kosong” di angkasa.

Branch (1985) menyebutkan unsur-unsur di dalam kota terdiri dari topografi, bangunan-bangunan, struktur atau bangunan lainnya yang bukan berupa gedung, jalur-jalur transportasi dan utilitas kota, ruang terbuka, kepadatan perkotaan, klim, vegetasi, dan perancangan perkotaan.

Kota secara fisik atau morfologinya,Yunus (2005) mendefinisikan kota  sebagai suatu daerah tertentu dengan karakteristik pemanfaatan lahan non pertanian, pemanfaatan lahan mana sebagian besar tertutup oleh bangunan baik bersifat residensial maupun non residensial (secara umum tutupan bangunan/building coverage, pola jaringan jalan yang kompleks, dalam satuan permukiman yang kompak (contiguous dan relatif lebih besar dari satuan permukiman kedesaan di sekitarnya, sementara itu daerah yang bersangkutan sudah/mulai terjamah fasilitas kota).

Berdasarkan definisi diatas, maka definisi kota secara fisik dalam penelitian ini adalah fakta geografis di permukaan bumi dan secara fisik pemanfaatan lahannya  berupa bangunan-bangunan dan ruang terbuka (ruang diantara bangunan yang dipertahankan alami atau dibuat manusia/artefak).

  

2.1.2    Pendekatan Pokok terhadap Morfologi Kota

Herbert (1973; dalam Yunus, 2005) mengemukakan bahwa tinjauan terhadap morfologi kota ditekankan pada bentuk-bentuk fisikal dari lingkungan kekotaan yang tercermin pada sistem-sistem jalan-jalan yang ada dan blok bangunan.

Cozen (1960; dalam Yunus, 2005) mengembangkan 2 macam konsep untuk “ town plan analysis” yaitu : (1) “the burgage cycle concept) (konsep siklus per plot) dimana tiap plot yang ada ditelusuri perkembangannya mulai tahap-tahap “institutive” (mulai dibangun gedung), “replitive (mulai penuh dengan gedung), “climax” (tahap takmemungkinkan dibangun gedung-gedung lagi), “recessive (tahap kemrosostan). (2) “the fixation line concept” (konsep pengenalan batas-batas karakteristik zona).

Dalam perancangan kota, Trancik (1986; dalam Zahn, 1996) menyebutkan ada 3 teori perancangan kota untuk menganalisis kota yaitu (1) Teori Figure/ground, (2) Teori Linkage dan (3) Teori Place.

Tabel 2. 1 Teori-Teori Perancangan Kota untuk Menganalisis Kota

No
Teori
Penjelasan
1
Teori Figure/ground
Dipahami dari sisi pandang perkotaan sebagai bentuk tekstural antara bentuk yang dibangun (building mass) dan ruang terbuka (open space). Analisis figure ground adalah alat yang sangat baik untuk mengidentifikasi tekstur dan pola-pola sebuah tata ruang perkotaan, serta mengidentifikasi keteraturan massa dan ruang perkotaan
2
Teori Linkage
Pendekatan yang membahas hubungan pergerakan atau kegiatan diantara keduanya (Figure dan Ground) didalam sebuah tata ruang kota. Analisis linkage adalah alat yang baik untuk memperhatikan dan menegaskan hubungan-hubungan dan gerak aktivitas pada sebuah ruang.

3
Teori Place
Pendekatan ini dipahami dari segi, seberapa besar pentingnya ruang-ruang kota dikaitkan dengan nilai kesejarahan, kehidupan budaya, dan kehidupan sosial masyarakatnya


Sumber : Zahn, 1996

Menurut Zahn (1996), ciri-ciri morfologi, bentuk, dan wujud kota dapat sangat berbeda antara suatu wilayah terhadap wilayah lain, namun beberapa prinsip dan elemen arsitektur perkotaan tetap dapat diamati dimanapun terkait susunannya. Elemen arsitektur perkotaan secara fisik dibagi menjadi dua yaitu (1) massa perkotaan (struktur positif) dan (2) ruang secara khusus ruang terbuka (struktur negatif). Skema elemen kota dapat digambarkan sebagai berikut.


Gambar 2.1 Skema Elemen Kota

Sumber : Zahn, 1996



Berdasarkan pendekatan pokok melihat morfologi kota, maka dalam penelitian ini akan menggunakan variable terbangun (dari elemen massa) dan ruang terbuka (dari elemen ruang).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar