2.1
Perkembangan Kota
2.2.1 Definisi Perkembangan Kota
Perkembangan kota (urban growth) merupakan kuantitatif
bertambahnya ukuran areal terbangun (Fodor.E.,1999). Proses
pertumbuhan kota dan perkembangan erat kaitanya dengan pertambahan penduduk
yang terus menerus. Pertambahan
penduduk yang terus menerus membawa konsekuensi spasial. Konsekuensi spasialnya
yaitu meningkatnya tuntutan akan ruang di kota akan hunian dan
bangunan-bangunan untuk mengadopsi kegiatan di dalamnya dengan ditandai
meningkatnya volume dan frekuensi kegiatan penduduk (Yunus, 2005). Riyadi (2001)
mendefinisikan perkembangan kota merupakan suatu proses perubahan keadaan
perkotaan dari suatu keadaan ke keadaan yang lain dalam waktu yang berbeda.
Yunus (2005) mengemukakan untuk mengenali pertumbuhan kota seiring kemajuan sistem informasi dan kemajuan teknologi khususnya teknik
penginderaan jauh dalam inventarisasi data, maka pertumbuhan kota dapat
dimonitor dengan cepat dan tepat terutama keadan fisikalnya.
Mengacu pada
definisi Riyadi (2001) maka membutuhkan minimal 2 waktu perekaman dalam
menganalisis perubahan perkembangan kota.
2.2.2 Konsep-konsep Perkembangan Kota
Teori terkait pertumbuhan kota sebagai berikut.
Tabel 2. 2
Ringkasan Teori-teori terkait Pertumbuhan Kota
|
No
|
Teori
|
Penjelasan
|
|
1
|
Teori Konsentris
|
Teori ini
dikemukakan oleh E.W. Burges (1925) bahwa kota i meluas
secara merata dari satu inti asli, sehingga tumbuhlah zona yang meluas
sejajar dengan pertahapan kolonisasi kearah zona yang letaknya paling luar.
|
|
2
|
Teori Sektor
|
Teori ini
dikemukakan oleh Hoyt (1939) bahwa
perkembangan-perkembangan baru yang terjadi disuatu kota, berangsur-angsur
menghasilkan kembali karakter yang dipunyai oleh sector-sektor yang sama
terlebih dahulu.
Kecenderungan sektor pembentukan sektor terjadi tidak secara kebetulan tetapi adanya asosiasi
keruangan khususnya aspek lokasi. Dalam penelitiannya Hoyt terkait sektor permukiman bernilai tinggi menemukan 10 (sepuluh)
kenampakan yang mempunyai peranan besar dalam pembentukan sektor yaitu (1)
sepanjang jalur transportasi yang menuju pusat perdagangan, (2) daerah-daerah
yang relatif lebih tinggi (3) bagian-bagian kota yang terbuka untuk
pengembangan yang lebih lanjut, (4) mendekati pemuka masyarakat, (5)
cenderung berkembang kearah kompleks bangunan perkantoran, (6) cenderung
berkembang sepanjang jalur transportasi cepat, (7) cenderung berkembang
kearah yang sama pada periode waktu yang lama, (8) dekat dengan kegiatan pada daerah permukiman lama, (9)
inisiatif promotor “real estate”
dan (10) mengikuti salah satu sector pada kota yang bersangkutan.
Dalam pertumbuhan
sektor-sektor dalam teori Sektor, dikemukakan ada tiga macam
jenis pertumbuhan :
1) Pertumbuhan Vertikal, yaitu daerah
dihuni oleh struktur
2) Pertumbuhan Memampat, yaitu apabila
wilayah suatu kota masih cukup tersedia ruang-ruang kosong untuk bangunan
tempat tinggal dan bangunan lainnya.
3) Pertumbuhan mendatar kearah luar (sentrifugal), yaitu biasanya
terjadi karena adanya kekurangan ruang bagi tempat tinggal dan kegiatan
lainnya. Pertumbuhan centrifugal dibedakan menjadi 3 macam yaitu :
·
Pertumbuhan datar
aksial, pertumbuhan kota yang memanjang dipengaruhi oleh jalur
transportasi.
·
Pertumbuhan datar
Tematis, pertumbuhan lateral suatu kota tipe dilatarbelakangi
oleh keadaan khusus.pertumbuhan datar Kolesen, perkembangan lateral ketiga
ini terjadi karena adanya gabungan dari perkembangan tipe satu dan dua.
|
|
3
|
Teori Pusat
Kegiatan Ganda
|
Dalam teori ini,
suatu kota dibentuk oleh pusat-pusat kegiatan fungsional kota yang tersebar
dan masing-masing pusat mempunyai peranan penting di dalam kota.
|
|
4
|
Teori Poros
|
Teori poros pertamakali dikemukakan
oleh Babcock (1932). Teori poros berpandangan bahwa transportasi mempengaruhi
struktur keruangn kota.
|
Sumber : Yunus (2005)
2.2.3 Proses Perkembangan Kota
Perkembangan kota
secara spasial identik dengan teori difusi yang dikemukakan oleh Hagerstrand
(1953; dalam Bintarto, 1991). Istilah difusi berarti
pemencaran, penyebaran, atau penjalaran. Dalam geografi, difusi mempunyai dua arti yang berbeda.
Pertama difusi ekspansi (expansion
diffusion) yaitu suatu proses di mana informasi, material dan sebagainya
menjalar melalui suatu populasi dari suatu daerah ke daerah lain.. Dalam proses
ekspansi ini informasi atau material yang di-difusi-kan tetap ada dan
kadang-kadang menjadi lebih intensif di tempat asalnya. Ini berarti daerah asal mengalami perluasan oleh karena terdapat
tambahan anggota baru dalam populasi.
Kedua, difusi
penampungan (relocation diffusion)
merupakan proses yang sama dengan penyebaran keruangan dimana informasi,
material yang di difusikan meninggalkan daerah yang lama dan berpindah atau
ditampung di daerah yang baru. Difusi ekspansi masih dibedakan menjadi dua
jenis yaitu
1)
Difusi menjalar (contagious
diffution) dimana proses menjalarnya terjadi dengan kontak yang
langsung.difusi menjalar mempunyai kecenderungan untuk menjalar secara
sentrifugal dari daerah sumbernya.
2)
Difusi Kaskade (cascade
diffution) adalah proses penjalaran atau penyebaran fenomena melalui
beberapa tingkat atau hierarki.
Hagerstrand (1953; dalam Bintarto, 1991), difusi keruangan
memiliki enam unsur. Pertama daerah (area) atau lingkungan dimana proses difusi terjadi. Unsur kedua
adalah waktu (time), dimana dufusi
dapat terjadi terus menerus dalam waktu yang terpisah-pisah. Unsur ketiga
adalah item yang didifusikan. Unsur
kempat adalah perbedaan tempat asal. Unsur kelima adalah tempat tujuan, unsur
keenam adalah jalur perpindahan yang dilalui oleh item yang didifusikan.
Yunus (2005) menyebutkan secara fisikal, proses perkembangan spasial
secara fisikal tampak ada 2 bentuk perkembangan yaitu proses sentrifugal dan
proses perkembangan secara sentripetal.
1)
Proses perkembangan
spasial sentrifugal
Proses perkembangan spasial sentripetal adalah
suatu proses bertambahnya ruang kekotaan yang berjalan kearah luar dari daerah
kekotaan yang sudah terbangun dan mengambil tempat di daerah pinggiran kota.
Proses ini merupakan pemicu dan pemacu bertambah luasnya areal kekotaan.
Faktor pengaruh terhadap variasi spasial
sentrifugal (Lee, 1979; dalam Yunus, 2005) terdapat 6 faktor yaitu 1) faktor
aksesbilitas, 2) factor pelayanan umum, 3) karakteristik lahan, 4) karakteristik pemilik lahan, 5) keberadaan peraturan-peraturan yang mengatur tata guna lahan
dan 6) prakarsa pengembang.
Ekspresi spasial perkembangan sentripetal ada 3
macam, yaitu (1) perkembangan memanjang; (2) perkembangan lompat katak dan (3) perkembangan konsenstris. Proses perkembangan spasial sentrifugal
memanjang adalah suatu proses penambahan areal kekotaan yang terjadi di
sepanjang jalur-jalur memanjang di daerah terbangun. Bentuk perkembangan
spasial sentrifugal lompat katak adalah bentukperkembangan areal kekotaan yang
terjadi secara sporadis di luar daerah terbangun utamanya dan daerah
pembangunan baru yang terbentuk berada di tengah daerah yang belum terbangun.
2)
Proses perkembangan
spasial sentripetal
Proses perkembangan spasial sentripetal adalah
suatu proses penambahan bangunan-bangunan kekotaan yang terjadi dibagian dalam
kota (the inner parts of the city).
Perkembangan spasial sentripetal ada dua macam yaitu (1) perkembangan
horizontal dan (2) perkembangan vertikal. Perkembangan
horizontal adalah proses penambahan ruang yang mengakomodasi kegiatan dengan
cara mendirikan bangunan secara mendatar pada bagian dalam kota yang masih
kosong. Perkembagan vertikal adalah proses
penambahan ruang dibagian dalam kota dengan cara membangun bangunan bertingkat
dengan tujuan memperoleh ruang yang lebih luas untuk mengakomodasi kegiatan.
2.2.4 Faktor-Faktor Perkembangan Kota
Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap proses perkembangan kota secara
spasial ditunjukkan pada Tabel 2.3
Tabel 2. 3
Faktor-faktor Perkembangan Kota
|
No
|
Peneliti
|
Faktor spasial yang berpengaruh
|
Lokasi Penelitian
|
|
1
|
Marwasta, Jaka
(2014)
|
Faktor yang berpengaruh signifikan
antara lain :
1. Faktor Pelayanan publik
2. Faktor aksesbilitas
3. Faktor karakteristik pemilik lahan
4. Karakteristik lahan
Faktor yang kurang berpengaruh
signifikan antara lain : kebijakan tata ruang dan prakarsa pengembang.
|
KekotaanYogyakarta
|
|
2
|
Susilo, Bowo
(2016)
|
Faktor yang berpengaruh signifikan
terhadap perubahan :
1. Jarak terhadap pusat kota
2. Jarak terhadap jalan utama
3. Jarak terhadap jalan lokal
4. Jarak terhadap kampus
5. Jarak terhadap kantor pemerintahan
Faktor yang memiliki hubungan kurang
signifikan terhadap perubahan yaitu faktor lereng dan Jarak terhadap
permukiman
|
Perkotaan Yogyakarta
|
|
3
|
Karsidi
(2011)
|
Faktor yang digunakan untuk membangun model perkembangan kota, yaitu:
1. Jarak dari area kota
2. Jarak dari pertanian
3. Jarak dari jalan
4. Jarak dari sungai
|
Bogor
|
|
4
|
Bintang Aulia
Pradnya Paramita
(2011)
|
Faktor yang berpengaruh dan digunakan dalam pembuatan peta potensi
pengembangan terdiri dari tiga kriteria, yaitu :
1. Kriteria jarak (jarak terhadap jalan)
2. Kriteria kepadatan (kepadatan bangunan)
3. Kriteria kebijakan (kebijakan tata ruang dan kerawanan bencana).
|
Kawasan Perkotaan Kedungsepur
|
Sumber : Hasil Komparasi, 2016